 | About Me | Sep 13, 2007 |
change is the only evidence of life |  | Menulis dan Mendesain sesuatu dari batik adalah aktivitas sehari-hari saya. :) |
Waw!
Blog saya sudah tertidur lama sekali! Wake up! :)
Begitu banyak hal yang sudah terjadi, anak-anak yang beranjak besar, buku-buku karya saya yang juga mulai beranak pinak, pengalaman menjadi trainer mendongeng juga peran sebagai story teller dan bisnis batik yang berjalan selangkah demi selangkah.
Malam ini saya hanya ingin kangen-kangenan dengan blog kecil saya :)
Ingin melihat tahun-tahun yang berlalu begitu cepat melalui tulisan saya, dan berjanji pada diri saya, untuk tidak tertidur terlalu lama.
Heloooooo World!
|  | Here are d activities card series that i've design (n write concept) for Frisian Flag. |
|  | Ini salah satu karya saya, sisipan buku untuk produk susu Frisian Flag. I am as conceptor here, design and write contents. |
|  | Saya jatuh cinta pada beberapa angle dari Nederlandsche Handel-Maatschappij yang sekarang ber-metamorfosa menjadi Museum Bank Mandiri. Gedung yang berdiri pada tahun 1933 ini masih menyimpan kecantikannya. Dengan aroma Niew Zakelijk saya seolah berada pada masa lalu. Beberapa angle terbaik untuk saya.. |
|  | sebuah sisi lain dari kenangan sejarah, bekas makam kuno yang terletak dalam area museum Wayang, yang dulu sempat bernama De Nieuw Hollandsche Kerk. |
|  | ..membayangkan batavia di 1700-1800-an, dengan Stadhuis, De Oud-Niew Hollandsche Kerk, Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia...dari tepi jendela Batavia Cafe.. |
|  | ..bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal sejarah kebangsaannya. Koningsplein West, 1862. |
Awalnya saya hanya pengagum bangunan ber-arsitektur art deco, entah itu rumah, gedung kantor atau gereja seperti Kathedral. Rasanya kok ngliat segala rupa bangunan tahun 1800-1900an itu rasanya adem, nyaman dan tenang. Belum lagi kalau di halaman atau jalan depan bangunan cantik itu ada banyak pohon-pohon sejenis angsana yang bikin teduh, jauh dari panas. Makanya saya suka banget kalau udah keliling Bandung, yang saya incer (selain F.O-nya) ya memanjakan mata dengan menikmati rumah-rumah zaman Belanda yang masih banyak menghiasi Bandung (dan Bogor!). Kalau di Jakarta sih, cukup puas ngliat rumah-rumah daerah Menteng yang masih menyisakan kecantikan masa lalu. Atau menatap separuh ngilu di daerah Kota pada bangunan bersejarah yang tak terawat. Saking sukanya dengan bangunan tempo doeloe, obsesi saya adalah punya rumah bergaya art deco (i wish). Dari sekedar mengagumi, saya akhirnya menyadari, ada ketertarikan saya pada sejarah. Bangunan-bangunan tua itu kan memiliki kisahnya sendiri-sendiri. Dari yang personal hingga yang go public. Kalau saya naik busway ke asemka, sepanjang jalan mata saya hanya menatap sisa-sisa bangunan tua antara gajah mada-glodok-stasiun kota, dengan khayalan yang saya ciptakan sendiri. Hihi.. Nah, sejak sadar saya cinta bangunan tua dan sejarah, maka bergabunglah saya dengan komunitas sahabat museum.Komunitas yang isinya semua pecinta sejarah yang ilmunya tentang sejarah bikin saya malu -zaman sekolah dulu, ngapain aja saya kalau guru lagi ngajar sejarah?- Duh, maaf pak dan ibu guru, bukan jasamu tidak berguna (saya aja yang ndableg, kali), tetapi cara menyampaikan kisah indah sebuah sejarah bangsa itu mungkin kurang memancing greget buat para siswa. Hari Minggu kemarin, sahabat museum punya acara berkunjung ke museum Bank Indonesia. Saya turut dan duduk di muka (lho?), bersama suami dan si sulung saya, Abang. Sengaja saya ajak Abang, pengen tahu juga, ada gak ketertarikan dia pada benda-benda bersejarah? Begitu sampai di sana, kami (saya) udah tercengang duluan melihat kecantikan gedung Museum Bank Inonesia (MBI) yang duluuunya adalah Ziekenhuis atau Rumah Sakit yang bernama Binnen Hospitaal. Setelah tak berfungsi sebagai zienkehuis, gedung ini kemudian digunakan oleh De Javasche Bank pada 8 April 1828. Hingga kemaren, gedung yang akhirnya berdiri sebagai Bank Indonesia Kota dan termasuk cagar budaya ini masih sangat sangat sangat cantik (heran saya kalau naik busway kan turun di depan gedung ini, kok ya nggak 'ngeh' ya? pikirannya belanja di Asemka aja sih). Kata Bang Adep (bos sahabat museum), gedung ini mengalami lima tahap pembangunan agar tampilannya maksimal, yaitu di tahun 1910, 1922, 1924, 1933 dan 1935. Pantes kecantikannya luar biasa! Masuk ke dalam, atmosfer tempo doeloe juga masih kental. Saya dan Abang langsung asik berfoto-foto, abis berasa ada di Eropa gituu..;p. Suasana sudah sangat ramai sore itu, suami saya sampai bingung, "Gila, banyak ya yang tertarik dengan museum?". hehe..(dia ikut kan karena "kepaksa" nganter saya). Walau "kepaksa" suami saya tampak asyik merekam sudut demi sudut museum dengan handycam. Nggak lama, mulailah tour De Javasche Bank ini dimulai. Waw! Inilah seharusnya museum. Saya salut dan kagum pada museum Bank Indonesia, mungkin museum ini masih yang tercanggih disini. Semua yang disajikan sungguh dapat dinikmati. Bahkan Abang pun sangat senang. Kolaborasi arsitektur zaman dulu dan kecanggihan peralatan modern masa kini dipadukan dengan sangat manis. Seperti koridor teller dengan pengaman besi klasik masih dipertahankan, lalu memasuki ruang Numisatik yang dulunya adalah Brankaast (pintu brankaastnya asli-li-li beratnya 12 ton!), di dalamnya ada macam-macam uang jadul dari kertas sampe logam. Abang asyik banget ngamatin uang di dalam kaca dengan kaca pembesar. Saya senang, upaya saya berhasil, nih. Lalu, ada dinding dengan uang logam yang melayang. Jika kita "tangkap" logam-logam itu akan memberi penjelasan tentang dirinya. Ada mini theatre, ada ruang peta dengan beraneka penjelasan asal muasal lahirnya mata uang. Waduh, sungguh museum yang mampu berinteraksi dengan pengunjungnya. Saya masih menikmati gedung tua De Javasche Bank ini, koridornya, ukirannya, balcony-nya. Saya masih berkhayal ketika gedung ini masih sebagai Binnen Hospitaal yang sangat luas. Dan lantainya! Khas banget dengan warna merah, hijau, biru..duh indahnya. (Kalau ada mesin waktu, pengen banget ngliat Batavia masa itu...) Kemarin itu, rupanya para arkeolog sedang sibuk membongkar sisa pondasi Tembok Kota Batavia. Rupanya, pada tahun 1657, Belanda membangun tembok yang mengelilingi wilayah sekitar itu. Salah satu dari empat pintu gerbangnya (kalo gak salah nangkep) berada di kawasan Zeikenhuis itu tadi. Aih, sejarah.. Walau pulang dengan sedikit tergesa mengingat si kecil di rumah. Tetapi, saya senang bahwa first impression Abang pada museum membuat dia tertarik. Langsung, jadwal kunjung museum saya agendakan untuknya, pengen tahu juga apa yang dia rasakan jika berkunjung ke museum yang belum se-keren Museum Bank Indonesia. Kesimpulan saya : Packaging is a must. Dan MBI sudah berhasil memberikan itu. | Traveller | | | | Talvin Singh | | | track04 | | | | Aroabar Winter Pagent | | | track06 | | | | Underwolves 68 moves | | | Close Cover | | | | Wim Mertens | | | Oh Home | | | | Paco Fernandez | |
|
Sudah pernah dipublikasikan pada Majalah Anak-anak Dolan, Majalah Gratis utuk SD Dahulu kala ada sebuah desa yang selalu tampak muram dan sedih. Semua warganya tidak ada yang bisa tersenyum dan berwajah masam. Pohon-pohon di desa itu tampak kusam. Bunga-bunga tak berwarna indah. Bahkan sepertinya langit yang menaungi bumi berwarna kelabu. Tak heran desa itu bernama Desa Kelabu. Suatu hari desa itu kedatangan seorang Putri bernama Luna. Putri Luna heran, mengapa semua yang ada di desa itu tidak memiliki keceriaan. Bertanyalah Putri Luna pada seorang kakek, “Wahai kakek yang baik, mengapa tiada keceriaan kutemui di desa yang indah ini?” “Keceriaan? Apa itu keceriaan? Kami sudah melupakannya sejak puluhan tahun lamanya!”, jawab kakek itu ketus. Lalu dia berlalu meninggalkan Putri Luna yang bertambah bingung. Kemudian Putri Luna bertemu seorang gadis muda yang sedang menenun, “Salam adik yang baik, mengapa kau menenun kainmu dengan warna yang kelam? Bukankah akan lebih indah apabila warna cerah yang kau pilih?”, Tanya Putri Luna hati-hati. “Warna cerah? Untuk apa warna cerah? Kami tidak membutuhkannya!”, jawab gadis muda itu dingin. Dan kembali meneruskan tenunannya. Putri Luna terus berjalan dan mengamati semua orang yang dia temui. Sampailah dia di sebuah rumah mungil dan melihat seorang anak perempuan kecil yang cantik, tapi matanya tampak sangat kosong. Putri Luna memberanikan diri mendekati anak itu. “Adik kecil yang cantik. Bisakah kau tersenyum? Kurasa itu akan membuatmu lebih gembira”, ucap Putri Luna. “Tersenyum? Apakah itu tersenyum?”, tanyanya sedih. Oo, Putri Luna menjadi sedih mendengarnya. Sepertinya lama kelamaan kemurungan dan kesedihan bisa menular pada sang Putri. “Apakah yang harus kulakukan agar desa ini menjadi lebih berseri?”, keluh Sang putri berbicara pada dirinya. Dipandangnya langit kelabu yang berawan. Ah, seandainya langit bisa menampakkan warna biru indahnya, pasti suasana di sini akan lebih baik, pikir Putri Luna. Tiba-tiba sang putri mendapat sebuah ide! “Aku harus membuat langit berwarna biru cerah!”, Putri Luna melonjak kegirangan. Anak perempuan kecil di dekatnya merasa bingung. Tapi dia merasa senang melihat wajah berseri sang putri. Baru kali inilah anak itu melihat wajah yang bersemu kemerahan dan tampak bahagia. Tak sadar si anak mulai menyunggingkan senyum walau sangat tipis. “Siapa namamu, sayang? Maukah kau membantuku?”, Tanya Putri Luna pada anak itu. “Namaku Luca, dan aku mau membantumu!”, jawab Luca pelan. “Ayo ikut aku! Kita akan mewarnai langit! Dan membuat pelangi!”, kata sang Putri bersemangat. Luca mengangguk. Dia menurut ketika sang putri membawanya ke istana, lalu mereka sibuk meramu berbagai warna untuk langit dan pelangi mereka kelak. Sepanjang menciptakan warna, Luca merasa senang dan bahagia. Sedikit demi sedikit Luca mulai tersenyum bahkan tertawa. Putri Luna senang melihatnya. Wajah Luca menjadi semakin cantik dan berseri. Hingga akhirnya, selesailah pekerjaan mereka. Mereka membawa beratus-ratus kaleng cat dan banyak kuas. Penduduk Desa Kelabu merasa heran, untuk apa cat dan kuas-kuas itu. “Kami akan mewarnai langit dan membuat pelangi!”, Luca berseru dengan semangat. Tawanya begitu lebar. Melihat ekspresi wajahnya, banyak penduduk desa Kelabu yang mulai menyunggingkan senyum. Walau samar. Akhirnya berbondong-bondong warga desa yang ingin tahu mengikuti Putri Luna dan Luca berjalan menuju gunung tertinggi di desa itu. Ketika sampai, mulailah putri Luna memanjat pohon tertinggi, dan hup! Perlahan diwarnailah langit kelabu dengan warna biru yang indah sedikit demi sedikit. Penduduk desa yang semula diam mengamati, perlahan-lahan mulai mengikuti apa yang dilakukan Putri Luna. Mereka merasakan semangat dan kegembiraan yang luar biasa ketika beramai-ramai mewarnai langit. Luca dan anak-anak yang lain, menciptakan pelangi dengan aneka warna kesukaan mereka. Sedikit demi sedikit tawa mereka mulai terdengar. Dan akhirnya suara mereka terdengar riuh rendah. Dan, waaw! Selesailah pekerjaan mereka. Semua merasa takjub melihat betapa cerahnya langit dan indahnya warna pelangi. Lalu mereka kembali ke desa mereka dengan rasa senang. Tak puas-puasnya mereka memandang langit. Ajaib, ketika sampai di desa, penduduk menemukan semua pohon berwarna hijau segar, bunga-bunga tumbuh dengan warna yang cantik, dan semua orang yang tersenyum manis. Para gadis pun menenun kain mereka dengan warna-warni indah yang menarik. Tak ada lagi wajah masam, suram, murung dan sedih. Putri Luna merasa senang. Usahanya berhasil! Penduduk yang merasa gembira, mengucapkan terima kasih pada Putri Luna. Dan menjamu sang Putri dengan sebuah pesta yang penuh tawa. Ah, ternyata perasaan senang dan gembira bisa ditularkan, ya? Dan, rasanya akan membuat segalanya menjadi lebih baik. | | |
..juga sudah pernah dimuat pada Majalah Dolan. Pada zaman dahulu di Meksiko, ada seorang laki-laki pembuat permen yang baik dan ramah, bernama Carioca. Carioca dan istrinya Maia, membuka sebuah toko permen kecil yang berwarna-warni. Mereka menamakan tokonya, Carioca Gula-Gula. Pelanggan mereka banyak sekali, karena Carioca tidak pernah pelit untuk memberi bonus sekantung permen susu pada anak-anak. Suatu hari, di hari libur yang cerah, Carioca tampak terlihat murung dan termenung. Maia ingin tahu dan bertanya, “Sayang, mengapa kau tampak murung? Ini cokelat panas kegemaranmu”, Maia memberi secangkir cokelat kesukaan Carioca. “Aku hanya bosan dengan rasa permen yang itu-itu saja, istriku”, jawab Carioca sambil meminum cokelatnya. “Wuuiih, cokelat buatanmu terlalu manis, Maia!” “Ya, ya. Beberapa pelanggan menginginkan permen yang berbeda dan istimewa!”, Maia mengingat-ingat. “Dan maaf dengan cokelat kemanisannya!”, Maia tersenyum Lalu mereka berdua terdiam, mencoba merancang permen istimewa apakah yang akan mereka sajikan untuk para pelanggan mereka. Sampai beberapa saat, mereka masih kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba, terdengar suara cerek di dapur, tuuiiiiiiittttt! Menandakan air yang sedang direbus, sudah matang. Bergegas Maia ke dapur untuk mematikannya. Bersamaan dengan itu, Carioca melihat pohon Sapodila liar di pekarangan rumah mereka telah tumbuh besar. Carioca mendekati pohon itu, sambil masih memegang cangkirnya. Wah, kokoh juga pohon liar ini!, begitu pikir Carioca. Tidak lama, Maia tergopoh membawa satu cerek berisi air panas. “Carioca, air panas yang kurebus terlalu banyak. Maukah kau menambah air pada cokelatmu agar tak terlalu manis?”, Tanya Maia. Carioca tertawa, dan mengasongkan cangkirnya. Maia segera menuangkan dan kembali ke dapur. Carioca masih asyik dengan pohon Sapodilanya, ketika dia dikejutkan oleh tetesan sejenis getah dari ranting pohon itu, dan menetes ke dalam cangkir cokelat panasnya. “Hm, pohon ini bergetah rupanya”, pikir Carioca. Tanpa sadar dia meminum cokelat yang sudah terkena getah pohon Sapodila. Dan dia menghabiskannya. Sampai tegukan terakhir, Carioca terkejut, karena ada sesuatu yang kenyal dan lengket seperti karet di mulutnya. Oo, itu getah pohon Sapodila! Carioca tertegun! Rasa manis dari cokelatnya, dan rasa kenyal yang unik dari pohon Sapodila liar membangkitkan ide baru padanya. Ya! Carioca akan membuat permen kenyal. Permen yang belum pernah ada di Meksiko. Carioca berteriak senang dan mengabarkan idenya pada Maia. Hari itu juga sepasang suami istri itu memotong satu dahan kecil pohon Sapodila, mengelupas kulit kayunya, dan meneteskan getahnya pada satu baskom air yang sangat panas. Begitu berhari-hari mereka mencoba meramu cara agar permen kenyal itu jadi sempurna. Sampai akhirnya mereka menemukan resep istimewa, getah yang mereka namakan gum base, dicampur dengan gula, sirup jagung dan dimasukkan ke dalam alat pelebur, hasilnya menjadi permen kenyal yang manis dan unik. Walau permen kenyal itu tidak bisa ditelan, tapi ternyata para pelanggan banyak yang menyukainya. Toko mereka semakin ramai, karena sejak saat itu, Carioca selalu menyediakan permen-permen dengan rasa baru. Dan, sekarang permen kenyal itu kita kenal bernama permen karet. Dengan aneka rasa dan bentuk yang bisa kita pilih, peppermint, strawberry, kayu manis, dan banyak lagi. | | | | Cerita ini sudah pernah dimuat pada Majalah Dolan, Majalah Gratis untuk SD Piko adalah anak yang baik, namun sayang dia sangat penakut. Sehingga seringkali diejek oleh teman-temannya karena sifatnya itu. Piko menjadi tidak punya teman dan lebih senang bermain sendiri. Dia sering mengurung diri dalam kamar dan membaca banyak buku cerita yang disediakan ibunya. Piko merasa kamarnya adalah kamar ternyaman yang dapat membuat dia berani. Suatu hari kedua orang tua Piko harus pindah pekerjaan ke kota lain. Suasana kota yang baru sangat tenang dan aman. Rumah baru mereka pun begitu indah dan luas. Tapi, Piko yang penakut merasa tempat baru adalah tempat yang selalu menakutkan. Piko mendapat kamar baru berwarna biru. Jendelanya besar, ada teras yang menghadap ke taman, dan uniknya kamar itu mempunyai dua lantai. Lantai di atas berupa loteng dengan tangga yang dapat ditarik jika kita ingin menaikinya. Tapi bagi Piko kamar loteng pasti menyeramkan. Dan firasat Piko benar! Setiap malam Piko mendengar derap langkah kecil di kamar lotengnya. Piko menjadi tidak bisa tidur dan gemetaran. Piko juga bertekad untuk tidak melongok ke atas kamar loteng. Ketakutan Piko yang berlebihan, menarik perhatian peri Amaranggana. Peri pemberi rasa berani pada anak-anak. Suatu malam, peri Amaranggana datang ke kamar Piko. “Hai, Piko. Senang dengan kamar barumu?”, Tanya peri Amaranggana ramah. “Aaah! Siapakah kau?”, Piko terkejut dan bersembunyi di balik selimutnya. “Aku, Amaranggana. Peri pemberi rasa berani”, jawab peri Amaranggana. “Benarkah?”, mata Piko berbinar dan mulai membuka selimutnya perlahan. Piko pernah mendengar tentang peri pemberi rasa berani. Jadi, beruntunglah jika peri ini datang padanya. “Bagaimana jika kita melihat ke kamar loteng? Bukankah kau belum pernah kesana?”, Tanya peri Amaranggana. “Tidak! Kamar loteng itu menyeramkan! Aku tidak mau melihat kedalamnya!”, Piko menolak dan menutup mukanya. “Kau belum membuktikannya, Piko. Bagaimana kau bisa mengatakan kamar itu menyeramkan?”, ujar Peri Amaranggana. “Kudengar suara langkah kaki kecil setiap malam, dan gemerisik halus yang misterius! Hiii!”, Piko berkeras. “Suara derap seperti, tap..tap..tap, lalu gemerisik seperti krsskk..krssskk? Begitu?”, peri Amaranggana bergerak lucu. Piko tertawa. “Ya, ya! Bagaimana kau tahu?”, Piko ingin tahu. “Kalau kau ingin tahu, mari kita naik!”, ajak sang peri. “Tapi..!”, sebelum Piko menjawab, peri Amaranggana menggandeng tangan Piko. Dan segera menarik tangga kamar loteng. Perlahan mereka menaiki tangga dengan hati-hati. Ketika tiba di atas, tampaklah kamar mungil yang berdebu. Tidak ada apa-apa. Peri Amaranggana menyalakan lampu kecil. Dan apa yang mereka lihat? Di sudut kamar dekat jendela, ada sekeluarga burung gereja yang bersarang di situ. Mereka tampak sibuk melindungi anak-anak mereka yang kedinginan. Suara kaki mereka, tap..tap..tap! Seperti yang sering di dengar Piko. Dan apabila mereka menggerakan sayap maka, krsskk…krssskk…sarang mereka yang terbuat dari jerami bersuara terkena gesekan. Oo! Piko tersenyum lega sekaligus tersadar. Bahwa selama ini dia hanya bermain dengan bayang-bayang ketakutan yang dia ciptakan sendiri. Dia segera mengambil kain lembut untuk selimut para bayi burung gereja itu. Keesokan harinya, Piko membersihkan kamar loteng. Rupanya jendela tidak tertutup rapat sehingga burung gereja bisa menyelinap masuk ke situ. Kamar itu kini menjadi ruang bagi buku-buku Piko. Teman-teman Piko sering belajar dan membaca bersama di situ. Piko tidak lagi kesepian dan ketakutan. Piko sangat berterima kasih pada peri Amaranggana. Dan sarang burung gereja tetap aman di tempatnya, tap..tap..tap, krsskk..krsskk. | | |  | Cerita ini sudah pernah dimuat di Majalah Dolan, Majalah Gratis untuk SD. “Sebel! Sebel! Sebel!”, Kikan menggerutu panjang lebar. Wajah cantiknya cemberut berlipat-lipat, bibirnya melengkung ke bawah. Uh! Kikan tampak tidak manis dilihat. Anak kelas empat SD itu, berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai. Lalu, menuju ke kamar, membanting pintu dan menelungkupan badannya di atas tempat tidurnya. Ibu terkejut mendengar suara bantingan pintu. Dan segera menghampiri Kikan di kamarnya. Hm, ada apa, ya? “Kikan? Kenapa, nak?”, Tanya Ibu sambil mengetuk pintu kamar. Dibukanya pintu yang tidak terkunci itu. “Aku sebel! Aku kesal!”, Kikan menjerit sambil menutup wajahnya dengan bantal. “Rebutan mainan lagi dengan Tara?”, Ibu menebak. “Iya! Tara selalu curang. Selalu pelit! Nggak adil, kan bu?”, Kikan sedikit mereda, matanya yang bulat menatap ibu seolah minta persetujuan. “Dimana letak tidak adilnya, sayang?”, Tanya Ibu sambil menghapus pipi Kikan yang basah oleh air mata. “Ibu gimana, sih? Tentu saja tidak adil. Setiap kali Tara bermain ke rumah kita, aku tidak pernah pelit untuk meminjamkan mainanku dan membagi kertas suratku, Tapi, kalau aku yang bermain ke rumah Tara, uh! Susah sekali hanya ingin memegang boneka barunya, apalagi meminjamnya!”, Kikan berceloteh panjang lebar. “Lho, kenapa tidak adil? Siapa yang menyuruh Kikan berbagi dengan Tara?”, Ibu balik bertanya. “Yaaa, tidak ada, bu. Itu karena aku senang berbagi”, jawab Kikan. “Dan, siapa yang mewajibkan Tara berbuat serupa dengan apa yang sudah Kikan lakukan?”, Ibu tersenyum. “Hm, tidak ada juga, ya?”, Kikan tampak bingung. “Lalu, apa kesimpulanmu?”, Ibu berteka teki. “Apa, ya? Ah, ibu bikin bingung nih!”, Kikan mulai tersenyum. “Begini, sayang. Kalau kita senang melakukan sesuatu yang baik dan menyenangkan orang lain, kita harus melakukannya dengan tulus. Tanpa berharap imbalan”, Tutur Ibu lembut. “Lho, bukankah kebaikan harus dibalas dengan kebaikan, Bu?”, Kikan bertambah bingung. “Memang, tapi sebaiknya jika kita melakukan kebaikan, semua berdasarkan keinginan hati yang ikhlas. Kalau kita selalu berharap mendapat imbalan dari orang yang kita tolong, wah, hati kita tidak akan tenang, loh!”, Ibu mengelus kepala Kikan perlahan. Sambil menggaruk-garuk kepala, Kikan tampak tidak mengerti. Tapi, ada satu kata yang melekat di kepalanya. Tulus. “Tulus itu, bisa berarti lepas, atau tenang, ya, bu?”, Tanya Kikan memastikan. “Pintar anak ibu! Hasil dari rasa tulus adalah rasa lega dan membuat hati kita menjadi tenang. Menjauhkan kita dari rasa kecewa karenanya”, Ibu tertawa senang. Kikan mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan rasa tenang mulai menyelimuti hatinya. Dia mulai memahami, untuk tidak mengharap imbalan dari apa yang sudah dia lakukan. Ya, tidak semua keinginan kita harus selalu terwujud, bukan? Ibu meninggalkan kamar anaknya dengan perasaan senang. Beliau berharap, Kikan menangkap makna berbagi dalam kesehariannya. Hm, berbagi memang indah. Dilakukan dengan hati yang tulus pasti akan jauh lebih indah. | | |  | Nama | Sep 19, '07 1:12 PM for everyone |
| Nama panggilan kecil saya jauh sekali dari nama ‘beneran’ saya. Nggak ada hujan nggak ada angin, ayah saya menciptakan nama kecil saya dengan satu nama sederhana : Iping. Mula-mula, karena belum mengerti saya masih ‘manut’ aja dengan panggilan sayang itu. Semakin besar, kok, nggak terima, ya? Mulailah aksi protes nama panggilan berkibar, waktu itu saya masih SD. Alasan ayah saya, nama itu berasal dari kata –duh lupa, ya?- pokoknya yang artinya gembil, gendut, chubby atau semacam itulah. Karena ketika bayi, saya sangat gembil, gendut, chubby itu tadi. Teteuup, saya gak terima. Karena saat itu saya sudah nggak gendut, bahkan cenderung kurus. Saya malu banget kalau ada temen sekolah yang tau nama panggilan itu. Nggak mau nengok deh, kalau dipanggil. Tapi ya karena lingkungan sekolah sangat dekat rumah, suka nggak suka, ya banyak juga yang tau. Tahun berlalu, saya SMP, masuk sekolah yang terbersit oleh saya adalah nggak ada anak tetangga yang satu sekolah sama saya. Dengan harapan, nggak ada yang tau nama panggilan saya. Eeh, ya mana mungkin lah ya? Ada aja anak tetangga yang satu sekolah, satu kelas malah! Yaa…nyebar juga deh, tuh nama : Iping. Hu’uh! Tahun berlalu lagi, saya masuk SMA. Saya pikir, wah, aman nih! Karena saya diterima di sekolah yang agak jauh dari rumah saya. Asiik! Tapi, eits, tunggu dulu! Ada juga satu temen yang (kok ya?) masuk di sekolah yang sama. Cuma satu siihh, tapi, efek dia manggil saya itu lho, luar biasa! Satu sekolah tau deh, nama : Iping. Ampun! Susah banget saya lepas dari nama itu, ya? Makin gede nih, masuk kuliah. Clingak clinguk, kiri kanan. Sip! Nggak ada temen SMA yang satu jurusan nih! Amaaannn! Eeh, salah lagi. Ada! Juga cuma satu. Tapi dampaknya sama dahsyat dengan di SMA. Ujung-ujungnya, ya nama : Iping, tetap terdengar. Yaa, pasrah deh. Moga-moga kuliah nggak kelamaan. Blas! Saya beres kuliah. Langsung kerja! Senangnya. Yakin seyakin-yakinnya, nggak bakal ada yang manggil nama : Iping di kantor. Dudiiidam. Tapi memang nama adalah diri, ya? Karena beberapa kali teman-teman datang ke rumah, dan mendengar nama panggilan saya, waduh! Langsung deh, mereka mengganti nama beneran saya. Apalagi ada dua ‘Vanda’ di kantor saya. Berhubung, Vanda yang satu sudah lebih dulu di sana, sayalah yang ‘harus mengalah’ dengan berbagai nama panggilan untuk membedakan antara saya dan mbak Vanda. Nama saya mulai beragam –tentu aja : Iping, tetap eksis-, dari mulai Yuli (dari Yulianti), Vanda Yul, sampai akhirnya :Ibu (ketika saya sudah menikah dan punya anak). Pasraah sepasrah pasrahnya, dipanggil yang manapun, kok ya saya juga tetep nengok. Itu belum seberapa, temen yang sangat dekat dengan saya punya nama kesayangan lain lagi, ada yang manggil dengan ‘Nduk, Ndul. Nggak tau gimana sejarahnya tuh? Hehe.. Sekian tahun di kantor tercinta, saya hijrah ke divisi lain yang masih satu grup dengan kantor lama. Gubrak! Masuk-masuk saya termasuk ‘senior’ secara lama kerja di sana. Yang lain masih piyik-piyik (waktu itu). Mulai deh, mereka kasak kusuk ngarang nama buat saya. Akhirnya terciptalah : Mami! Busyet! Alasan mereka, karena saya satu-satunya yang sudah punya anak! Yeee! Cuma satu sahabat saya, Rindra yang manggil saya dengan ‘Ciiii’, nggak tau juga alasannya apa? Ah, sudahlah. Ssstt, nama : Iping, nggak populer disini. Akhirnya… Saat ini kalau saya ingat-ingat, saya suka geli sendiri. Sampai saat ini nama-nama itu masih melekat di saya. Kalau ngumpul dengan temen-temen lama, berhamburanlah ragam nama panggilan saya. (lagi-lagi) ya, saya teteep : nengok. Hm, betapa tanda sayang, kedekatan, menciptakan panggilan ‘mesra’ sendiri-sendiri. Duh, geer banget ya? Ya..itung-itung sambil ngitung, semakin banyak nama panggilan tandanya semakin banyak yang sayang. Kalau ada temen-temen dari Bobo, Nova dan Chic yang baca pasti protes, “Yee, siapa yang sayang sama lo?” hehe.. | | | |  | Mirel, The Sweet Butterfly is my first flap book for age 3-5, Ilustrated by Heydie Ibrahim, Published by Erlangga For Kids. Visit My Mirel at Book Corner Inspired Kids Magazine's site, Gramedia Book Store, Kinokuniya, and other Book Stores.
WFP is one of part United Nation, WFP Fun Book was dedicated for children from the small villages at Lombok. Ilustrated by EmTe and Published by Enka Deli.
Loli Free Activities Magazine for age 3-6, is my idealism project. With Pimpim and Heydie Ibrahim, we were teamwork to build our dream for give monthly magazine as FREE just for kids!
And, Dolan! Other idealism project. Free Magazine for Primary. Project Officer : Arif and Nigar. |
|  | Photo By Arif Rahman |
| Artikel tentang teh ini sudah dipublikasikan pada Preferred Magazine, internal magazine for Bank Niaga Preferred Circle. It's dedicated for TEA. (Photo by Arif Rahman) Alkisah, pada tahun 2737 SM seorang Kaisar bernama Shen Nung dari provinsi Yunan Cina sedang memasak air untuk minuman beliau. Tiba-tiba sehelai daun kering melayang masuk ke dalam jerang air mendidih itu. Air seduhan daun tersebut menghasilkan sebuah minuman baru dengan aroma khas yang wangi. Daun yang pada akhirnya dikenal bernama daun teh itu, hingga kini merupakan minuman yang banyak digemari. Dari mulai rasa, aroma, warna dan khasiatnya menjadi pilihan berbagai kalangan sebagai “teman” menikmati suasana. Keunikan teh tidak hanya terdapat pada daunnya. Tata cara minum teh pun memiliki ciri yang berbeda. Mengapa ritual minum teh itu begitu istimewa dan memiliki sisi seni kuliner yang unik? Beberapa Negara memiliki seni menikmati teh dengan caranya. Jepang Seni upacara minum teh di Jepang memerlukan pendalaman selama bertahun-tahun dengan penyempurnaan yang berlangsung seumur hidup. Upacara minum teh yang dinamalan ,sadō / chadō adalah ritual tradisional Jepang dalam menyajikan teh untuk tamu. Pada zaman dulu disebut chatō atau cha no yu. Tamu yang diundang secara formal untuk upacara minum teh juga harus mempelajari tata krama, kebiasaan, basa-basi, etiket meminum teh dan menikmati makanan kecil yang dihidangkan. Teh disiapkan secara khusus oleh orang yang mendalami seni upacara minum teh dan dinikmati sekelompok tamu di ruangan khusus untuk minum teh yang disebut chashitsu. Tuan rumah juga bertanggung jawab dalam mempersiapkan situasi yang menyenangkan untuk tamu seperti memilih lukisan dinding (kakejiku), bunga (chabana), dan mangkuk keramik yang sesuai dengan musim dan status tamu yang diundang. Teh bukan cuma dituang dengan air panas dan diminum, tapi sebagai seni dalam arti luas. Upacara minum teh mencerminkan kepribadian dan pengetahuan tuan rumah yang mencakup antara lain tujuan hidup, cara berpikir, agama, apresiasi peralatan upacara minum teh dan cara meletakkan benda seni di dalam ruangan upacara minum teh (chashitsu) dan berbagai pengetahuan seni secara umum yang bergantung pada aliran upacara minum teh yang dianut. Pada umumnya, upacara minum teh menggunakan teh bubuk matcha yang dibuat dari teh hijau yang digiling halus. Upacara minum teh menggunakan matcha disebut matchadō, sedangkan bila menggunakan teh hijau jenis sencha disebut senchadō. Dalam percakapan sehari-hari di Jepang, upacara minum teh cukup disebut sebagai ocha (teh). China Di China, penyajian minum teh tidak disertai dengan hidangan makanan. Dalam tradisi minum teh di China, ada dua wadah yang digunakan. Sebuah gelas dan sebuah mangkuk. Gelas berfungsi untuk menghirup aroma teh, sedangkan mangkuk berfungsi untuk meminum air teh. Orang China membuat teh secara bersama-sama. Daun teh dimasukkan hingga menutupi lingkaran dasar poci. Poci terbuat dari tanah liat merah yang berpori rapat sehingga ketika dituangi air, lambat laun poci akan menjadi kering kembali. Poci ditaruh di atas mangkuk yang lebih besar, lalu dituangi air mendidih hingga luber. Air yang luber akan tertampung di mangkuk besar itu. Kemudian poci ditutup sekitar dua menit. Air teh dituang ke dalam gelas lalu dipindahkan ke mangkuk. Seusai memindahkan air teh, tamu menghirup aroma teh dari gelas sebagai tanda penghormatan pada tuan rumah yang telah menyajikan teh. Setelah itu, barulah teh bisa diminum. Proses ini dilakukan berulang-ulang dengan jenis teh yang berbeda-beda. Inggris Teh dikenalkan di Inggris sekitar tahun 1652. Harganya sangat tinggi karena dianggap sebagai minuman bangsawan. Salah satu bangsawan yang menggemari teh adalah Pangeran Charles II dan istrinya, Catherine de Braganza. Dari bangsawan-bangsawan Inggris, teh dikenal sampai ke beberapa negara. Teh yang biasa disajikan saat sarapan dan makan malam diperkenalkan seorang bangsawan Inggris sebagai minuman pergaulan. Mereka menikmati teh sambil jalan-jalan di halaman rumah. Gaya hidup para bangsawan ini ditiru oleh para keluarga Inggris. Kebiasaan minum teh di Inggris masih berlangsung hingga kini. Ada dua jenis upacara teh di Inggris. Teh cair biasanya disajikan pada siang hari dalam pertemuan keluarga. Dihidangkan dengan roti berselai, sandwich, atau makanan kecil lainnya. Di Indonesia sendiri, tradisi minum teh sudah merupakan bagian dari gaya hidup terutama di kota-kota besar. Gerai-gerai teh banyak ditemui di sudut Jakarta. Hanya sayang, ritual yang indah dan merupakan bagian dari seni kuliner dalam menikmati teh belum tampak pada kebiasaan bangsa ini. Mungkin Anda memiliki kebiasan unik sebelum dan sesudah menyeruput teh favorit Anda? Hm, selamat menikmati teh hangat Anda.*** Dalam box : Secangkir Informasi Seputar Teh Berdasarkan tingkatannya dikenal empat macam jenis teh, yaitu : 1. White Tea, teh ini berasal dari pucuk tertinggi tanpa proses fermentasi atau proses perubahan kimia. Merupakan jenis teh terbaik dan memiliki antioksidan tertinggi yang baik bagi tubuh. 2. Green Tea, memiliki warna hijau karena mengandung tannin yang tinggi. Dalam pengolahannya, teh ini tidak memberi kesempatan fermentasi, karena pucuk teh diproses langsung dengan panas untuk menghentikan aktifitas enzim sehingga sama seperti raw leaf. 3. Oolong Tea, diproduksi dari tanaman teh yang tumbuh di daerah semi tropis. Proses fermentasinya sekitar 30%-70% dan perubahan berlangsung setengah sempurna sehingga masih mengandung sebagian tannin selain beberapa senyawa turunannya sehingga warna dan aromanya diantara green tea dan black tea. 4. Black Tea, proses pengolahannya melalui fermentasi penuh hingga semua kandungan tanninnya terfermentasi menjadi theaflafin dan thearubigin yang akan merubah warna dari hijau menjadi kecoklatan dan dengan proses pengeringan berubah menjadi hitam. Teh hitam mudah dikenali dipasaran karena warnya hitam dan paling luas dikonsumsi.*** | | | | Selagi iseng-iseng membuka-buka folder-folder dalam laptop saya, saya membuka folder milik si sulung saya. Kaget juga saya melihat beberapa karya kecilnya yang belum dia selesaikan! Ini salah satunya.. alan see our view and alan see a big rocket and say to medie look that theres a big rocket yes that is a big rocket and medie say to czeivand look that czeivand a big rocket produced by: czeivand al-lazuardy | | |  | Guestbook | |
 | hai salam kenal...aku produksi abon nih.. abon ayam n ikan tuna... mampir yak... ^_^ |
 | Mampir yukkkk ke Batik Shakuntala.. Lagi musim diskon lhooo... Buruan!!! |
 | thanks... kalo ke jakarta, harus datengin satu-persatu tuh museum... |
 | permisi, ikut mampir ya... |
 | ayooo ayooo mana lagi isinya.. jangan males..! hap! hap! hap!
Maleeessssssssssssssssss banget niiiiiiiiiiii! |
 | ayooo ayooo mana lagi isinya.. jangan males..! hap! hap! hap! |
 | Buset..
Dia buka rahasia kalo gue narsis dari usia muda belia, haha! Eh, kita dulu kenal di Bandung gulan ya? Hihii.. Gile, udah 18 tahun ya? |
 | Weits..
Akhirnya keinget juga liat blog bu Panda, haha! |
 | halo van (or should I call u ping :P hehehe)... gara2 mau ketemuan sama ex 115, jadi gak sengaja nyasar ke rumah mu... Numpang liat2 yee.. Nice site anyway.. |
 | Sale ... Sale... di Lemari Ch@ily... |
| Mampir yuks ada batik cantik ^_~ |
 | BATIKHOLIC, mampir yuuk, banyak yang baru nih, dari bahan sampai baju, ada kimono bati warna-warni juga, thx |
 | mampir yuks and you will find many cheap price :) |
 | Met ultah ke-2 buat anak kedua kamu ya (Vacha) :)... |
 | visit our site guys, we provide cute Korean style with cheap price ^___^ come and feel free to cantact us at www.cheaplyfashion.multiply.com |
 | Salam kenal. Numpang liat karyanya... |
 | Hi, mba Vanda... Pa kabar? Semoga baik-baik aja, ya.. Keep well done all the works! |
 | hi dhean, with my pleasure.. |
| |